Minggu, 07 Juli 2024

2.3.a.3. Mulai Dari Diri - Modul 2.3 Coaching Untuk Supervisi Akademik Oleh : Zaldi Muzani, S.Pd. CGP Angkatan 10 Kab. Brebes

 

2.3.a.3. Mulai Dari Diri - Modul 2.3 Coaching Untuk Supervisi Akademik

Oleh : Zaldi Muzani, S.Pd.

SMK Karya Bhakti Brebes

CGP Angkatan 10 Kab. Brebes

 

1.        Selama menjadi guru, tentunya pembelajaran Anda pernah diobservasi atau disupervisi oleh kepala sekolah Anda. Bagaimana perasaan Anda ketika diobservasi?

Jujur saja selama menjadi guru, saya belum pernah di observasi secara langsung oleh Kepala Sekolah. Yang mengobservasi/ menyupervisi selama menjadi guru adalah guru senior/ wakil kepala sekolah. Meski begitu Perasaan Saya ketika diobservasi oleh guru senior/ wakil kepala sekolah tetap saja pastinya saya merasa sedikit gugup meskipun sudah siap dengan administrasi pembelajaran yang terdiri dari Rencana Pelaksanaan Layanan (karena saya guru BK) media pembelajaran, instrument penilaian, daftar hadir siswa dan perlengkapan yang lainnya. Saya tetap merasa khawatir karena tidak terbiasa ketika mengajar ada yang mengamati saya apalagi yang mengamati kepala sekolah. Namun selama proses pengamatan saya berusaha untuk bersikap professional, memberikan materi pembelajaran kepada siswa secara terperinci, sebisa mungkin membuat suasana kelas sama seperti kelass pada umumnya. Sehingga baik siswa maupun saya merasa nyaman.

 

2.        Ceritakan pengalaman Anda saat observasi dan pasca kegiatan observasi tersebut?

 

Ø  Pengalaman saat observasi

Selama kegiatan observasi berlangsung di kelas, saya berusaha menampilkan kegiatan pembelajaran yang terbaik. Memastikan siswa dapat mengikuti dan memahami apa yang saya arahkan. Memberikan pengertian kepada siswa untuk tetap bersikap biasa tanpa takut ada yang mengawasi. Meskipun sejatinya saya sendiri merasa khawatir, gugup dan tegang.

Alhamdulillah supervisor juga bersikap terbuka selalu memahami dan menerima kondisi kekurangan dan kelebihan saya, sehingga selama proses observasi berjalan dengan lancer. Saya memahami sekali bahwa kegiatan ini dilakukan untuk mengarah pada perbaikan dan pembinaan supaya guru khususnya saya lebih profesional dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya.

 

Ø  Pengalaman pasca observasi

Saya mendapatkan umpan balik positif, kritikan dan saran yang baik dari Supervisor. Umpan balik tersebut, saya jadikan bahan evaluasi diri sehingga bisa memperbaiki kekurangan-kekurangan untuk menjadi lebih baik dalam memenuhi tugas sebagai seorang pendidik. Saya juga termotivasi dengan adanya program supervisi akan membuat saya sebagai guru bisa reflektif diri dalam melihat kekurangan saya.

 

3.        Menurut Anda, bagaimanakah proses supervisi akademik yang ideal yang dapat membantu diri Anda berkembang sebagai seorang pendidik?

Menurut saya, seorang supervisor hendaknya menjadi among dan teladan sehingga dapat menjadi relasi bagi pendidik. Dengan memberikan kesempatan dalam wawancara dan diskusi terkait administrasi yang dilengkapi oleh seorang guru, proses pembelajaran , kesiapan kebutuhan mengajar guru,ataupun metode dan media pengajaran yang tepat digunakan sehingga guru akan lebih cepat berkembang. Karena supervisi pada dasarnya mempunyai tujuan mengidentifikasi letak keberhasilan dan kekurangan guru dalam pelaksanaan proses belajar mengajar untuk mengarah pada perbaikan berikutnya, untuk itu supervisi yang dilakukan kepala sekolah paling tidak bisa menjadi tolak ukur bagi seorang guru dalam memperbaiki kekurangannya dan kekuatannya yang nantinya akan kita gunakan untuk memfasilitasi murid untuk mewujudkan pembelajaran yang bermakna. Sebagai pendidik yang di supervisi hendaknya menerima dengan senang hati masukan dan tanggapan yang diberikan oleh supervisor sehingga dapat digunakan sebagai bahan perbaikan di masa yang akan datang.

 

4.        Menurut Anda, jika Anda saat ini menjadi seorang kepala sekolah yang perlu melakukan supervisi, dimana posisi Anda sehubungan dengan gambaran ideal di atas dari skala 1 s/d 10? Situasi belum ideal 1 dan situasi ideal 10.

Jika saya saat ini menjadi seorang kepala sekolah yang perlu melakukan supervisi, sehubungan dengan gambaran ideal di atas maka posisi saya masih di angka 7. Karena saya baru pertama melakukan supervisi dan masih perlu bimbingan dan perlu belajar.

 

5.        Aspek apa saja yang Anda butuhkan untuk dapat mencapai situasi ideal itu?

Aspek yang saya butuhkan untuk dapat mencapai situasi ideal dengan cara membekali diri dengan pengetahuan dalam hakikat,tujuan,fungsi,peran dari supervisor yang telah dilaksanakan,dan juga memahami teknik coaching yang baik,tak cukup dengan itu tingkatkan keterampilan berelasi dengan menjalin komunikasi yang efektif dan berempati dalam menggerakkan komunitas disekolah. Dengan mewujudkan merdeka belajar yang nantinya harus mampu membawa perubahan dalam mengembangkan kurikulum yang berpusat pada murid.

 

 

Setelah Anda menjawab pertanyaan-pertanyaan reflektif, tuliskan harapan Anda terkait modul ini :

  1. Apa saja harapan yang ingin Anda lihat pada diri Anda sebagai seorang pendidik setelah mempelajari modul ini?

Setelah mempelajari modul 2.3 tentang coaching supervise akademik, saya berharap mampu memahami seluruh materi sehingga dapat saya terapkan dalam praktik baik di lingkungan sekolah / menerapkan latihan percakapan berbasis coaching yang dapat menguatkan saya menjadi pemimpin pembelajaran yang mandiri dan berkwalitas, membantu memfasilitasi guru lain dalam mengevaluasi pembelajaran berdasarkan dari yang dipelajari Selain itu, saya juga berharap dapat berkolaborasi Bersama rekan sejawat di sekolah maupun di komunitas praktisi untuk menjalankan semua proses dari hasil supervise sehingga mampu mencapai tujuan bersama.

  1. Apa saja kegiatan, materi, manfaat yang Anda harapkan ada dalam modul ini?

a.    Kegiatan yang saya harapkan ada dalam modul ini: adanya kolaborasi dalam praktik baik tentang coaching supervise akademik Bersama fasilitator, pengajar praktik, instruktur dan khususnya Bersama rekan-rekan CGP.

 

b.    Manfaat yang saya harapkan ada dalam modul ini , melakukan percakapan berbasis coaching dalam komunitas sekolahnnya untuk mengembangkan kompetensi rekan sejawat.

 

c.    Membedakan coaching dengan pengembangan diri lainnya ,yaitu mentoring, konseling, fasilitasi dan training.

 

d.    Menjelaskan prinsip-prinsip coaching dalam komunikasi yang memberdayakan untuk pengembangan kompetensi .

 

 

Sabtu, 15 Juni 2024

AKSI NYATA DISEMINASI BUDAYA POSITIF DI SMK KARYA BHAKTI BREBES OLEH : ZALDI MUZANI, S.Pd, CALON GURU PENGGERAK ANGKATAN 10 KABUPATEN BREBES



AKSI NYATA DISEMINASI BUDAYA POSITIF 

DI SMK KARYA BHAKTI BREBES

OLEH :

ZALDI MUZANI, S.Pd,

CALON GURU PENGGERAK ANGKATAN 10 KABUPATEN BREBES








Berikut Link Aksi Nyata Modul 1.4 "Budaya Positif"  

Youtube :

 https://www.youtube.com/watch?v=UyfsPuAFlks


PMM : 

https://guru.kemdikbud.go.id/bukti-karya/video/662803?from=share



Assalamu'alaikum Wr. Wb
Alhamdulillah sebagai CGP telah melaksanakan Aksi nyata dan Diseminasi Budaya Positif pada modul 1.1 hingga di ujung modul 1.4, saya juga merasa bangga dapat menginisiasi kegiatan positif di Sekolah dengan melakukan kolaborasi dan dukungan dari Pihak Sekolah di SMK Karya Bhakti Brebes.


1. Latar Belakang

    Pendidikan menurut Bapak Pendidikan Kita yakni  Ki Hajar Dewantara adalah segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka dapat mencapai kebahagian dan keselamatan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Dalam menuntun seorang guru mampu menciptakan kelas yang aman, nyaman, menyenangkan, menantang dan relevan sehingga terwujudnya murid yang memiliki profil pelajar pancasila.   

     Profil pelajar pancasila akan terwujud dengan kolaborasi antar warga sekolah melalui budaya positif. Salah satu budaya positif di sekolah tumbuh dan berkembang adalah dengan menerapkan keyakinan kelas. Keyakinan kelas haruslah muncul dari murid sehingga keyakinan yang telah disepakati benar-benar diinginkan dan dihargai oleh setiap murid di kelas maing-masing.


2. Tujuan

Mewujudkan kemerdekaan pada murid dengan memberikan kebebasan untuk menyampaikan pendapat mengenai keyakinan-keyakinan kelas yang mereka yakini.

Melatih kolaborasi dalam hal menyepakati keyakinan-keyakinan kelas yang mereka buat.

Menumbuhkan karakter positif pada murid melalui keyakinan kelas yang mereka sepakat.


3. Tolak Ukur

Murid mampu membuat kesepakatan kelas untuk dipasang di dinding kelas dan menaati. Murid mengapikasikan nilai-nilai profil pelajar pancasila secara sadar dan berkesinambungan dalam proses belajar sehingga tercipta pembelajaran yang menyenangkan dan berpihak pada murid. 


4. Linimasa Tindakan yang Akan dilakukan 

Guru memfasilitasi peserta didik untuk membuat kesepakatan kelas.

Guru meminta ijin kepada Kepala Sekolah untuk melaksanakan kegiatan diseminasi budaya positif. pada 

Pada  Hari Selasa, 28 Mei 2024 terlaksana Kegiatan diseminasi Budaya Positif di SMK Karya Bhakti Brebes terkait disiplin positif, kesepakatan kelas, serta praktik segitiga restitusi sebagai dampak pelanggaran kesepakatan kelas.

Guru menjelaskan tentang pengertian dan pentingnya kesepakatan kelas.


5. Dukungan yang dibutuhkan 

Dukungan dari seluruh warga sekolah dalam berkolaborasi, berpartisipasi aktif dalam membiasakan budaya positif di sekolah. 


6. Pembelajaran yang didapatkan

- Pembuatan keyakinan kelas

- Posisi  kontrol yang terbaik menjadi guru adalah posisi manajer dan teman

- Kolaborasi dan dukungan dari warga sekolah dalam pelaksanaan aksi nyata sangat penting

- Langkah-langah segitiga restitusi dalam menyelesaikan kasus 


7. Rencana perbaikan dimasa mendatang

yakni dengan Mengevaluasi pelaksanaan keyakinan kelas agar dapat terlaksana dengan maksimal


Terimaksih, mungkin ini yang dapat saya sampaikan. 


Salam dan bahagia.

salam Guru Penggerak.

Tergerak - Bergerak - Menggerakkan  . . . !


Wassalamu'alaikum Wr Wb







 







Rabu, 22 Mei 2024

1.4.A.8 KONEKSI ANTAR MATERI – MODUL 1.4 BUDAYA POSITIF ZALDI MUZANI, S.Pd.

 

1.4.A.8 KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 1.4

 

BUDAYA POSITI

ZALDI MUZANI, S.Pd.

CGP ANGKATAN X KAB. BREBES SMK KARYA BHAKTI BREBES

 

 

 


 

 

 










 

    Buatlah sebuah kesimpulan mengenai peran Anda dalam menciptakan budaya positif di sekolah  dengan  menerapkan  konsep-konsep  inti  seperti  disiplin  positif,  motivasi perilaku     manusia     (hukuman    dan    penghargaan),     posisi    kontrol    restitusi, keyakinan sekolah/kelas,   segitiga  restitusi  dan  keterkaitannya  dengan  materi sebelumnya yaitu Filosofi Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara, Nilai dan Peran Guru Penggerak,  serta Visi Guru Penggerak.

 

Jawaban :

 

 

    Kesimpulan mengenai peran saya dalam menciptakan budaya positif di sekolah dengan menerapkan konsep-konsep inti seperti disiplin positif, motivasi perilaku manusia (hukuman dan penghargaan), posisi kontrol restitusi, keyakinan sekolah atau kelas, segitiga restitusi dan keterkaitannya dengan materi sebelum nya yaitu Filosofi Pendidikan  Ki  Hajar  Dewantoro,  nilai  dan  peran  guru  penggerak,  serta  visi  guru


penggerak yakni Setelah mempelajari modul 1.1 sampai dengan modul 1.4 kesimpulannya saya sebagai seorang guru harus  memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman nya. Artinya pendidikan itu berpihak dan berpusat kepada anak memerdekakan anak dalam berekspresi dan menyampaikan ide atau gagasannya dan sebagai pembelajar sepanjang hayat.

    Nilai  dan  peran  guru  penggerak  yaitu  Berpihak  pada  siswa,  Mandiri,  inovatif,

 

kolaboratif dan reflektif.

 

    Peran guru penggerak antara lain :

 

1.   Menjadi pemimpin pembelajaran

 

2.   Menggerakkan komunitas praktisi

 

3.   Menjadi coach bagi guru lain

 

4.   Mendorong kolaborasi antar guru

 

5.   Mewujudkan kepemimpinan peserta didik atau study agency

 

    Visi guru penggerak visi guru penggerak dapat tercapai dengan melakukan pendekatan inkuiri apresiatif  yang  dilakukan  melalui tahapan proses  BAGJA (buat  pertanyaan, ambil Pelajaran, gali mimpi, jabarkan rencana, atur eksekusi) di mana proses ini akan membentuk dan menghasilkan budaya positif di kelas atau di sekolah sehingga mampu menciptakan peserta didik sesuai dengan profil pelajar Pancasila.

 

 

 

 

 

1.   Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep inti yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: disiplin positif, teori kontrol, teori motivasi, hukuman dan penghargaan, posisi kontrol guru, kebutuhan dasar  manusia, keyakinan kelas, dan segitiga restitusi. Adakah hal-hal yang menarik untuk Anda dan di luar dugaan?

 

 

Jawaban :


Konsep inti yang telah dipelajari pada modul 1.4 positif modul budaya positif guru penggerak dan seluruh warga sekolah berkolaborasi bersama dalam menerapkan budaya positif wujud dari penerapan budaya positif antara lain merancang peraturan


kelas,  membuat  keyakinan  kelas,  menciptakan  lingkungan  positif,  mewujudkan budaya positif. Wujud penerapan budaya positif menciptakan satu menciptakan lingkungan   positif  2   membuat   keyakinan   kelas   3   merancang   peraturan  atau kesepakatan kelas 4 mewujudkan budaya positif dengan menciptakan keamanan dan kenyamanan bagi siswa.

Budaya positif atau pembiasaan-pembiasaan positif yang dilaksanakan di sekolah adalah nilai-nilai positif yang diterapkan untuk menumbuhkan motivasi intrinsik untuk mewujudkan profil belajar Pancasila. Budaya positif inilah yang akan menimbulkan rasa aman dan nyaman pada para murid saat berlangsungnya proses pembelajaran budaya positif mendorong siswa untuk mampu bernalar kritis sehingga menimbulkan sikap gotong royong Mandiri berkebhinekaan Global kreatif dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Budaya disiplin. Disiplin positif merupakan pendekatan mendidik anak untuk melakukan kontrol diri dan pembentukan kepercayaan diri anak sedangkan nilai kebajikan dan keyakinan kelas ialah tujuan mulia yang mengacu kepada nilai-nilai atau prinsip mulia yang dianut oleh siswa dan guru.

Adapun kebutuhan dasar manusia ada 5 yaitu bertahan hidup, kasih sayang dan  rasa  diterima,  kebebasan,  kesenangan  dan  penguasaan.  Selain  itu,  terdapat  5 (lima)  posisi kontrol antara  lain  1)  pemberi  hukuman  membuat  rasa  bersalah  2) membuat  rasa  bersalah  3)  teman  4)  pemantau  dan  5)  manajer.  Sedangkan  pada segitiga restitusi ada 3 tahap yaitu 1) menstabilkan identitas 2) validasi tindakan yang salah 3) menanyakan keyakinan

 

 

2.   Perubahan  apa  yang  terjadi  pada  cara  berpikir  Anda  dalam  menciptakan  budaya positif di kelas maupun sekolah Anda setelah mempelajari modul ini?

Jawaban :

 

Setelah mempelajari modul 1.4 saya mendapat pembelajaran baru bagaimana membantu siswa dalam menyelesaikan masalah siswa yang menimbulkan hal-hal baik dalam proses pembelajaran di kelas atau di sekitar lingkungan sekolah. Saya mencoba untuk memposisikan diri saya pada situasi dan keadaan posisi siswa yang bermasalah serta saya dapat memberikan motivasi dan mendorong siswa untuk berubah ke arah yang lebih baik dan berperilaku positif dan menjadi budaya sehingga menjadi budaya positif di sekolah.


 

 

 

3.   Pengalaman seperti apakah yang pernah Anda alami terkait penerapan konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif baik di lingkup kelas maupun sekolah Anda?

Jawaban :

 

Pengalaman yang saya alami dalam melakukan posisi kontrol kepada para murid saya adalah saya seringkali marah dan emosi ketika murid melakukan kesalahan namun setelah saya mempelajari 5 (lima) posisi kontrol dan memahaminya serta memaknainya, maka saya mencoba memposisikan diri saya sebagai pemantau dan manajer saya mencoba menerapkan posisi yang menuntun siswa menemukan solusi dari permasalahannya sehingga memberikan pertanyaan pemantik pada siswa dalam menemukan solusi dari kesalahan yang sedang terjadi atau dialaminya serta membiasakan kebiasaan yang positif agar kebiasaan positif tersebut dapat terwujud menjadi budaya yang positif.

 

 

4.   Bagaimanakah perasaan Anda ketika mengalami hal-hal tersebut?

 

Jawaban :

 

Perasaan yang saya rasakan adalah rasa menyesal dan bersalah kepada siswa ketika dalam menyelesaiakn masalah dengan amarah. Tidak seharusnya saya berbuat seperti itu, tetapi setelah memahami posisi control dan materi CGP yang lainnya saya mulai memahami dan mempraktikkan praktik baik kepada siswa. Dan yang saya rasakan sekarang adalah bangga karena bisa menyelesaikan permasalahan siswa dengan baik.

 

 

5.   Menurut Anda, terkait pengalaman dalam penerapan konsep-konsep tersebut, hal apa sajakah yang sudah baik? Adakah yang perlu diperbaiki?

Jawaban :

 

Hal baik yang sudah ada di lingkungan kelas dan sekolah saya adalah disiplin positif, nilai-nilai kebajikan serta keyakinan kelas yang dibangun bersama dan berpihak kepada murid salah satunya mengadakan penyambutan siswa atau kegiatan 5S (sapa, senyum, salam, sopan, santun) sebelum siswa masuk ke sekolah, melaksanakan salat Dhuha dan dzuhur berjamaah dan tidak lupa mengadakan kegiatan operasi semut (semua sampah dipungut)


Adapun hal yang perlu diperbaiki adalah bagaimana merubah posisi kontrol yang selama ini terbiasa saya lakukan sebagai seorang pembuat rasa bersalah atau bahkan mungkin tidak sengaja sebagai penghukum menuju posisi pemantau teman serta manajer dengan atau secara konsisten

 

 

6.   Sebelum mempelajari modul ini, ketika berinteraksi dengan murid, berdasarkan  5 posisi  kontrol,  posisi  manakah  yang  paling  sering  Anda  pakai,  dan  bagaimana perasaan Anda saat itu? Setelah mempelajari modul ini,  posisi apa yang Anda pakai, dan bagaimana perasaan Anda sekarang? Apa perbedaannya?

Jawaban :

 

Sebelumnya  posisi kontrol  yang  selama  ini terbiasa  saya  lakukan  adalah  sebagai seorang pembuat rasa bersalah atau bahkan penghukum. Perasaan saat itu saat saya melakukan posisi kontrol itu adalah hal yang benar dengan harapan siswa mau mempertanggungj awabkan sikapnya dan mampu merubah sikap lebih baik walaupun kadang saya merasa seperti memaksa mereka untuk berubah. Setelah mempelajari modul 1.4 ini saya mencoba melakukan posisi kontrol sebagai manajer teman dalam menghadapi murid saya yang melakukan kesalahan, saya merasa bangga jika murid saya  menyadari  kesalahannya  dan  mampu  menemukan  solusi  untuk  bertanggung jawab memperbaiki sikapnya.

 

 

7.   Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan segitiga restitusi ketika menghadapi permasalahan murid Anda? Jika iya, tahap mana yang Anda praktekkan dan bagaimana Anda mempraktekkannya?

Jawaban :

 

Alhamdulillah Kebetulan saya seorang guru BK sehingga menurut saya segitiga restitusi sering sekali bahkan hampir setiap hari dilakukan oleh seorang guru BK tetapi karena  memang  kami  sebagai  guru  BK baru  menyadari  bahwa  yang  kami terapkan selama ini adalah segitiga restitusi ketika menghadapi permasalahan. Saya berusaha melakukan segitiga restitusi dalam semua tahapan yaitu menstabilkan identitas seperti menanyakan alasan kenapa murid tersebut melakukan hal yang buruk atau tidak bertanggung jawab atas kesalahannya menanyakan apakah siswa mengerti siswa   paham  kaitannya   yang   sudah  dilakukan  kemudian  siswa   diminta   atau diharapkan bisa menyelesaikan masalahnya sendiri secara mandiri tentunya dengan arahan dari saya sebagai guru BK tetapi yang memang sering kami lakukan masih ada


sedikit yang berbeda atau salah kaitanya dengan Siswa masih sering membuat siswa merasa  bersalah  ataupun  memberikan  hukuman  sebagai  sikap pertanggungjawabannya untuk kesalahan yang mereka perbuat contohnya misal siswa dilarang ikut pelajaran atau siswa harus membersihkan kelas

 

 

8.   Selain konsep-konsep yang disampaikan dalam modul ini, adakah hal-hal lain yang menurut Anda penting untuk dipelajari dalam proses menciptakan budaya positif baik di lingkungan kelas maupun sekolah?

Jawaban :

 

Selain hal-hal yang saya dapatkan di modul 1.4 ini Ada hal penting lainnya dalam proses menciptakan budaya positif baik di lingkungan kelas maupun sekolah yaitu berupa adanya kegiatan kolaborasi dengan rekan sejawat murid dan seluruh warga sekolah  serta kelengkapan  sarana  dan  prasarana  sekolah  yang  nyaman  aman  dan menyenangkan untuk proses pembelajaran itulah yang menurut saya penting untuk dipelajari dalam proses menciptakan budaya positif

 

 

 

 

 

Salam Guru Penggerak !! Tergerak, Bergerak dan Menggerakkan !!

2.3.a.3. Mulai Dari Diri - Modul 2.3 Coaching Untuk Supervisi Akademik Oleh : Zaldi Muzani, S.Pd. CGP Angkatan 10 Kab. Brebes

  2.3.a.3. Mulai Dari Diri - Modul 2.3 Coaching Untuk Supervisi Akademik Oleh : Zaldi Muzani, S.Pd. SMK Karya Bhakti Brebes CGP Angkatan...